Membangun Peradaban Membangun Kasih Sayang

membangun peradaban membangun kasih sayang

Pada level mikro, membangun hubungan kasih sayang antar sesama merupakan kebutuhan dan hak setiap individu. Kasih sayang merupakan kebutuhan non material dari setiap orang, dan karenanya ia harus melakukan hal yang sama yang menjadi hak bagi orang lain untuk mendapatkan perlakuan kasih saying. Hubungan yang dilandasi kasih sayang antar sesama akan menghasilkan hubungan yang harmonis (emergence properties) sebagai fondasi dari bangun peradaban yang ideal.

Orientasi bagi perbaikan peradaban ini sebagai upaya untuk melawan serangan perusakan terhadap peradaban dan mengkritisi sikap pesimis pemikiran filsuf Jerman Peter Sloterdijk yang menyatakan humanisme gagal membawa perbaikan pada peradaban manusia. Sebagaimana ketidak-setujuan komunitas filsuf dari mazhab Frankfurt dimotori Jurgen Habermas membantah kegagalan humanisme.

Pandangan Filosofi

Tuhan memberikan anugrah kemampuan pada manusia berupa rasio (akal) dan rasa (kalbu), yaitu kasih sayang dalam hati (kalbu) manusia. Keduanya harus dipakai secara berimbang, dan sama pentingnya. Kemampuan akal menghasilkan hukum-hukum sebab-akibat (ilmu nomotetikal), dan kemampuan rasa menghasilkan ilmu normatif (etika atau moral).

Manusia memiliki sifat dasar yaitu ingin tahu, dan untuk memenuhinya tidak terlepas dari proses berpikir, yang menggunakan akal pikirannya untuk mencapai suatu kebenaran.

Secara analitik kemampuan berpikir manusia untuk mengetahui didasarkan pada:

  • kemampuan kognitif, yaitu kemampuan untuk mengetahui dan mengingat apa yang diketahuinya itu. Landasan kognitif adalah rasio yang sifat dan kemampuannya netral.
  • kemampuan efektif, yaitu kemampuan untuk merasakan tentang apa yang diketahuinya. Landasan afektif adalah rasa yang sifat dan kemampuannya tidak netral (memihak). Rasa ini yang merupakan sumber kreativitas manusia dan menjadikanya bermoral.
  • kemampuan konatif/psikomotorik, yaitu kemampuan/daya dorong manusia untuk bergerak mendekati atau menjauhi segala apa yang ditekankan oleh rasa. Rasalah yang memutuskan apakah sesuatu itu dicintai atau dibenci, dinyatakan indah atau buruk.

Kesadaran manusia merupakan dasar bagi berfungsinya rasio dan rasa (Descrates). Berpikir hanya dapat dilakukan dalam keadaan sadar, sehingga kesadaran merupakan dasar yang lebih dalam. Hanya dengan kesadaran ketiga kemampuan tersebut dapat berfungsi.

Menurut Peter Sloterdijk, profesor filsafat dan aestetik dari Karlsruhe, filsafat sejauh ini pasif mengamati perilaku sainstek. Padahal, aktivitas sainstek telah menjarah domain konflik etika serius yang bahkan belum pernah tuntas dikerjakan filsafat. Sloterdijk menggugat gagasan humanisme yang ada kini dan konsep-konsep “mendidik manusia” yang dilahirkan karena dianggap tak mampu menjawab persoalan kemanusiaan di masa depan. Ia mengusulkan agar manusia segera menyusun aturan orientasi etika baru sebagai respons atas perkembangan teknologi rekayasa genetika.

Aturan ini diarahkan sebagai pedoman teknologi eugenik (teknik pemilihan gen-gen sempurna) yang bakal menghasilkan populasi manusia yang lebih beradab. Bila selama ini otoritas pembentukan manusia dipegang oleh kultur, sejalan dengan aturan-aturan seleksi dan kombinasi manusia melalui interaksi antarkelas, kasta, perkawinan, dan sebagainya, kini kita harus menerima kenyataan bahwa kemajuan bioteknologi telah membuka peluang lahirnya model aturan dan kombinasi yang baru. Strategi ini dianggap jauh lebih baik dan bertanggung jawab karena manusia bisa aktif mengendalikan masa depan dan memastikan peradaban berkembang ke arah yang lebih baik.Tesis Sloterdijk mempunyai makna yang amat penting untuk dikaji lagi terutama dalam upaya memaknai berbagai konflik kemanusiaan.

Pesan penting dari Sloterdijk; apakah benar manusia mampu mengendalikan peradaban agar berkembang ke arah yang lebih baik? Era modernitas, yang merupakan keniscayaan bagi humanisme, ternyata malah menandai kembalinya peradaban barbar, di mana angka perilaku kekerasan dan kekejaman manusia terus bertambah. Modernitas juga tidak berbanding lurus dengan peningkatan atau keberlanjutan kualitas kemanusiaan peradaban manusia. Kemiskinan tetap menjadi fenomena universal, ditambah meningkatnya suhu ketegangan sosial, konflik, dan menjamurnya kecurigaan di tingkat lokal, regional, sampai internasional.

Seperti halnya agama, humanisme memiliki kekuatan karena bersifat utopis, yakin bahwa situasi ideal dapat dicapai berkat sifat-sifat baik manusia. Karenanya, filsafat humanisme mengkritik Freud yang dianggap mengabaikan potensi-potensi positif dari manusia, seperti kebaikan, kasih sayang, berbagi, dan kedermawanan. Humanisme lupa bahwa manusia punya sisi lain yakni potensi negatif yang acapkali lebih dominan daripada potensi positifnya, sehingga terjadi pelanggaran-pelanggaran prinsip-prinsipnya secara terbuka.

Dalam Manifesto I-nya di tahun 1933, semangat gerakan humanisme adalah “satu dunia” (One World) di mana, “semua manusia bersaudara” (Alle Menschen werden BrĂ¼der). Humanisme ditujukan untuk mencapai tatanan masyarakat bebas dan universal, di mana manusia berpartisipasi secara cerdas dan sukarela untuk mencapai kebaikan bersama. Ketika kemudian “universal” menjadi istilah yang kabur mengingat komposisi geopolitik dunia kala itu amat tegang, empat puluh tahun kemudian Manifesto Humanisme II memperjelas arti “universal” sebagai penolakan kategorisasi manusia berdasar kebangsaannya.

Sayang, tatanan dunia justru terbangun oleh kategorisasi-kategorisasi yang saling bersaing secara tidak imbang, seperti ekonomi-politik, kebangsaan, fundamentalisme, atau agama, lalu berimbas pada mekanisme distribusi akses kebutuhan manusia. Mengingat humanisme lahir dari kalangan elite intelektual, kelas menengah, mapan, dan liberal, ada masalah saat mendefinisikan universalitas cara pandang dalam memahami manusia dan nilai-nilai hidupnya. Sebagian berpendapat globalisme dan kosmopolitanisme adalah baik dan tepat, sebagian lagi menganggap ide-ide global justru menjadi penghalang mencapai makna hidup yang tertinggi.

membangun peradaban membangun kasih sayang

Bukannya mencoba menyelesaikan masalah ini, langsung ke akar, humanisme malah sering membiarkan diri terjebak dalam situasi dilematis seperti digambarkan Paul Tillich dalam karya Love, Power, and Justice; haruskah cinta yang kita rasakan pada seseorang yang telah melakukan tindak kejahatan membebaskan kita dari kewajiban menegakkan keadilan?

Tokoh humanis progresif AS, Carleton Coon, awalnya menentang aksi militer AS ke Irak, namun saat keputusan perang dijatuhkan, ia tak punya pilihan lain selain mendukung pemerintahnya dan tentara yang berjuang atas nama negerinya. Menurut dia, yang perlu dikerjakan adalah memastikan pembangunan kembali Irak dalam kerangka kemanusiaan (persis seperti bunyi pamflet kampanye perang AS). Jepang juga memanfaatkan “dukungan kemanusiaan” sebagai ujud dukungannya terhadap perilaku AS karena konstitusi Jepang melarangnya terlibat secara militer dalam pertikaian negara lain.

Kedua ilustrasi ini menggambarkan, humanisme kedodoran dalam mempertahankan visi gerakannya sehingga mudah di-abuse oleh kepentingan minoritas-dominan seperti nasionalisme atau ekonomi-politik. Selain itu, sama seperti filsafat, humanisme juga keteteran menghadapi sainstek. Ia lupa bahwa bagi manusia, teknologi adalah representasi kesuksesan. Wajar bila teknologi turut berpartisipasi dalam merajut konflik antarbudaya dan kepentingan ekonomi. Sejarah membuktikan, manusia kini tak lagi menunggu saja sesuatu terjadi, ia akan dan mampu membuatnya terjadi.

Inilah yang digambarkan Martin Heidegger sebagai karakteristik relasi antara teknologi produksi dan kepentingan ekonomi satu sisi, dan antara etnoteknologi dan perang, di sisi lain. Perang dipandang penting oleh kalangan bisnis dan pimpinan politik-militer sebagai ajang menjual diri dan meraup keuntungan di tengah persaingan dengan para kompetitor dan musuhnya, tak peduli ketika karakter psikologis dunia lantas didominasi asumsi-asumsi paranoid yang bakal terus termanifestasi dalam aneka bentuk kekerasan.

Buat mereka, ini bukan masalah karena justru berarti keuntungan. Tetapi, bagaimana dengan manusia lainnya yang cuma bisa jadi penonton? Apakah kita harus membesarkan anak dalam atmosfer kebencian dan kekerasan lengkap dengan senjatanya dan membiarkan humanisme (baca: PBB) jadi dekor saja dalam adegan peperangan yang kita saksikan live dari televisi. Inilah kegelisahan yang dirasakan Sloterdijk saat sadar bahwa manusia bakal sulit lepas dari jerat konspirasi teknologi-bisnis-kekuasaan.

Dari sini gerakan humanisme dunia masa kini dan mendatang jadi makin penting. Logika humanismenya harus dibenahi dan tidak membiarkan pelanggaran atas prinsipnya diklaim sebagai suatu keharusan ekonomi-politik. Betapapun pesimisnya, langkah ke sana tetap harus dilakukan untuk membangun kembali kepercayaan diri bahwa manusia mampu menyiapkan masa depan terbaik buat generasi penerus. Bila tidak, mungkin tesis Sloterdijk menjadi satu-satunya alternatif yang masuk akal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *